Should We Be In The “Same Boat”?

Pendidikan adalah usaha setiap manusia di bumi untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi yang diberikan Tuhan, sehingga terwujud manusia yang cerdas yang diharapkan mampu menyokong kemajuan suatu bangsa. Adapun pendidikan memiliki komponen- komponennya: 1) Tujuan; 2) Siswa (peserta didik); 3) Pendidik (guru, dosen, dan sebagainya); 4) Lingkungan pendidikan; 5) Cara-cara mendidik; 6) Alat pendidikan; 7) Evaluasi pendidikan. Kaitannya dengan hal tersebut, dalam pendidikan tentu kita tak asing dengan yang namanya media pembelajaran, yakni media adalah alat sedangkan pembelajaran adalah proses interaksi antara siswa dan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Media pembelajaran atau alat pendidikan menjadi komponen pendukung keberhasilan proses belajar mengajar (UU RI NO. 20 Tahun 2003 pasal 1 (20)).

“Setujukah bahwa media pembelajaran itu penting?”

 “Ya setuju”.

“Seberapa penting bagimu?”

“Cukup penting. Dalam proses belajar mengajar setidaknya saya kira 80% media pembelajaran diperlukan, sedangkan sisanya adalah kemampuan guru dalam menyampaikan materi di depan siswa“

Begitulah kiranya pemikiran penulis mengenai media pembelajaran. Bagaimana menurut kalian? Seberapa pentingkah media pembelajaran?

Penulis meyakini bahwa adanya penggunaan media pembelajaran bukan menggantikan metode pengajaran, namun membantu pendidik dalam melengkapi materi yang disampaikan. Secara umum, melalui penggunaan media pembelajaran diharapkan terjadi interaksi yang aktif antara pendidik dan siswa, sehingga tercapailah hasil belajar yang sesuai dengan tujuan.

Namun, dari 80% pentingnya penggunaan media pembelajaran yang penulis paparkan sebelumnya, kesalahan yang penulis sadari bahwa yang menjadi patokan dalam pemikiran di atas yakni pembelajaran dimana proses belajar mengajar yang terjadi di dalam suatu ruangan kelas yang mana pendidik dan siswa saling berinteraksi dengan media pembelajaran yang pada umumnya digunakan, yakni media pembelajaran tradisional seperti buku cetak dan dengan segala bentuk media pembelajaran yang hanya bisa digunakan ketika proses belajar mengajar hanya di dalam suatu ruangan kelas. Karena kenyataannya dibutuhkan berpikir ke depan bahwa pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam ruangan suatu kelas. Fakta lain penulis temukan dari membaca sebuah artikel di website bahwa penggunaan media pembelajaran tidak hanya sebagai pelengkap materi yang disampaikan guru seperti yang disampaikan di atas sebelumnya, namun media pembelajaran juga memiliki kedudukan yang mana media sepenuhnya melayani kebutuhan belajar siswa.

Dalam buku How to Differenciate Instruction in Mixed Ability Classroom yang ditulis oleh Tomlinson pada tahun 2001, Tomlinson menyatakan bahwa Kebutuhan belajar siswa dapat dikategorikan berdasarkan 3 aspek: 1) Kesiapan belajar siswa, yakni dapat diketahui melalui kinerja siswa yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan oleh guru sesuai dengan keterampilan dan pemahaman mereka; 2) Minat siswa dapat diketahui jika tugas-tugas tersebut memicu keingintahuan dalam diri seorang siswa; 3) Profil belajar siswa dapat diketahui jika tugas-tugas tersebut memberikan kesempatan bagi siswa untuk bekerja dengan cara mereka sendiri.

Berlanjut pada hal yang melandasi penulis bahwa pembelajaran bukan hanya dilakukan di suatu ruangan kelas, yakni adanya bencana melanda beberapa negara termasuk di Negara Indonesia 2 tahun terakhir. YAP! Bencana berupa covid-19 yang menyebar di Negara Indonesia pada awal Maret 2020 yang bermula pada suatu kasus di kota Depok, Jawa Barat yang mana pasien diduga melakukan kontak dekat dengan Warga Negara Jepang yang ternyata positif covid-19. Dari situlah mulai muncul beberapa kasus-kasus penyebaran covid-19 di berbagai wilayah di Negara Indonesia yang secara total membawa dampak bagi seluruh sektor kegiatan manusia yang biasanya dilakukan di luar ruangan .

Seperti halnya sektor ekonomi yang biasanya terjadi transaksi di ruangan terbuka pun dihentikan, sedangkan di sektor pendidikan para petinggi pendidikan, termasuk didalamnya pendidik justru harus memastikan kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan walaupun tidak dalam ruangan belajar (kelas). Dalam hal ini pendidik harus mendesain media pembelajaran yang dapat terhubung secara daring (dalam jaringan) antara pendidik dan siswa. Dari hal tersebut lah ditemukan fakta lain bahwa media juga dapat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu, karena proses belajar mengajar yang beralih menjadi daring (dalam jaringan) melalui media pembelajaran dapat menjangkau ruang dan waktu siswa dimanapun mereka berada. Maka, dari hal tersebut muncul lah penyebutan 2 kategori media pembelajaran, yakni media pembelajaran daring (dalam jaringan) yang proses pembelajarannya dilaksanakan di ruang dan waktu yang berbeda, dan media pembelajaran luring (luar jaringan) yang proses pembelajarannya di dalam suatu ruang belajar (kelas) dimana pendidik dan siswa berinteraksi secara langsung.

Adapun jika media pembelajaran di ruang luring (luar jaringan) biasanya hanya memanfaatkan buku cetak dan visual yang diproyeksikan (film edukatif dan sebagainya) yang memang merupakan bagian dari sarana prasarana sekolah. Maka, dalam media pembelajaran daring (dalam jaringan) pemanfaatan media pembelajaran seperti sarana teknologi yang berupa HP maupun laptop membawa problematika bagi siswa yang tidak bisa memiliki teknologi tersebut. Selain itu, dalam penggunaan HP dan laptop ini memerlukan akses internet, namun karena letak wilayah Indonesia yang beragam menyebabkan tidak semua wilayah memiliki akses internet yang cepat dan sebaran dalam layanan jaringan internet. Oleh karenanya dengan segala problematika media pembelajaran berbasis daring (dalam jaringan) di masa pandemi covid-19 ini, maka pendidik benar-benar dituntut kreatif dalam pemanfaatan media pembelajaran. Meskipun sebenarnya tidak dalam situasi pembelajaran daring (dalam jaringan) pun pendidik juga dituntut harus kreatif dengan menciptakan inovasi baru dalam penyampaian pembelajarannya.

Kaitannya dengan kreatifitas atau Kreatif dimaknai sebagai salah satu potensi yang dimiliki oleh seseorang. Dikatakan bahwa jika jiwa kreatifitas terus diasah, maka jiwa kreatifitas pun meningkat. Jiwa kreatif bisa dimiliki oleh siapa saja dan dimana saja. Selain itu, kreatifitas bisa menimbulkan berbagai pandangan. Bagaimana kreatif itu dijabarkan adalah perbedaannya. Dan sekali lagi memang di masa pandemi covid-19 ini pendidik dituntut untuk kreatif dalam melakukan pengajaran kepada siswa.

Adapun telah kita ketahui bahwa di Negara Indonesia masih banyak pendidik yang berstatus tidak tetap (honorer), tentu hal tersebut jangan menjadi halangan untuk menciptakan media pembelajaran yang kreatif terutama di masa pandemi covid-19 ini. Karena memang kreatif seperti sudah menjadi bagian dari tanggungjawab dan tugas pendidik baik yang tidak tetap maupun sudah tetap dalam menjalankan profesinya. Pendidik yang kreatif akan mengerahkan usaha agar terciptanya pembelajaran yang kreatif untuk keberlangsungan proses belajar mengajar, sehingga tercapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Adapun selain kreatifitas, setidaknya pendidik juga mampu memilih media pembelajaran yang terbaik agar pembelajaran mudah dilaksanakan. Dalam pemilihannya menurut beberapa para ahli harus mempertimbangkan beberapa faktor: 1) Model pemilihan media, yakni dengan cara terbuka dan tertutup (Anderson, 1976); 2) Alasan pemilihan media, tentunya hal tersebut dilakukan agar pembelajaran yang dilakukan bisa tersampaikan dengan baik ke siswa; 3) Kriteria media, dalam hal ini ada beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan yakni, tujuan penggunaan, sasaran penggunaan media, karakteristik media, waktu, dan biaya.

Beralih pada kreatifitas penggunaan media pembelajaran di masa pandemi covid-19 ini, yakni berbasis daring (dalam jaringan), dimana biasanya pendidik memanfaatkan whatsapp group, telegram, google meet, zoom, online learning class, dan sebagainya. Media-media tersebut dapat diakses melalui teknologi HP maupun laptop. Melalui media-media tersebut bisa dirancang pembelajaran kreatif yang sedemikian rupa sehingga pembelajaran menarik minat siswa dan tentunya diharapkan terjadi interaksi aktif antara pendidik dan siswa seperti halnya yang terjadi bila pembelajaran dilakukan dalam suatu ruang belajar (kelas, luar jaringan). Meskipun dengan problematika yang terpapar di atas, dari pengamatan penulis para pendidik terutama pendidik ditingkat SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA berusaha menjangkau siswa yang terkendala jaringan dengan memanfaatkan metode home visit yang tentunya dalam pelaksanaannya masih melibatkan media pembelajaran seperti buku teks, gambar, dan sebagainya.

Until here, have we been in the same boat?”

“Sejauh mana kita harus mengulik lagi dan meyakini diri bahwa media pembelajaran di situasi apapun itu juga sangat penting?”

Dari melihat kenyataan pemaparan di atas, keyakinan penulis mengenai pentingnya media pembelajaran kini mencapai 100%. Kenyataan lain bahwa tanpa adanya bencana atau situasi yang mengharuskan pembelajaran dilaksanakan daring (dalam jaringan) media pembelajaran tetaplah menjadi bagian terpenting dalam proses belajar mengajar. Dalam hal ini pola pikir kreatif dan positif dapat membantu dalam penggunaan media pembelajaran di situasi apapun. Selain itu, jangan lupa ketepatan dan kecermatan pemilihan media pembelajaran berpengaruh dalam efesiensi proses belajar mengajar yang sedang berlangsung baik daring (dalam jaringan) maupun luring (luar jaringan).

“So, learning media is Important! You have been in the same boat” right?”

“ I think we should!”

“Undeniable! coz learning media is supporting component in education as part of tool education. So, now you must be in the same boat with me! YASH”

I think it’s enough. Harapan penulis yang notabene masih seorang mahasiswa jurusan pendidikan, semoga segala yang penulis paparkan dapat bermanfaat dan menjadi renungan bersama khususnya mahasiswa jurusan pendidikan bahwa media pembelajaran memang lah sangat penting. Bila ditanya seberapa penting maka 100% agaknya masih kurang, karena memang penting bahkan urgent penggunaannya dalam keberlangsungan proses belajar mengajar di situasi apapun (daring maupun luring). Oleh karenanya, mari lebih berpikir positif dan kreatif dalam pemanfaatan media pembelajaran yang nantinya mewujudkan hasil belajar siswa sesuai tujuan yang diharapkan.

Penulis : Siti Muamalah (mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Purwokerto)




Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama