Perjalanan Mencari Kebenaran dalam Berorganisasi

Perkenalkan saya adalah seorang yang punya latar belakang dari sebuah keluarga yang sedikit agamis dan demokratis serta fleksibel. Ayah dari keluarga Nahdliyin dan ibu dari keluarga Muhammadiyah. Kami lima bersaudara dididik dan dibimbing dengan bekal ilmu agama, dimana kegiatan kami setelah ba’da ‘ashar adalah mengaji di rumah dan ba’da maghrib di masjid. Rumah kami dijadikan tempat mengaji oleh ayah untuk anak-anak setiap sore.

Kami kakak beradik dibekali ilmu sesuai yang ayah bisa yaitu dengan dasar Nahdliyin. Sehingga sampai besar saya hanya hafal bacaan-bacaan yang diajarkan oleh ayah. Ketika usia SD, saya tidak tahu yang namanya Muhammadiyah apalagi dengan apa yang diajarkan di Muhammadiyah. Namun dengan berjalannya waktu, ketika kami menginjak usia remaja (SMP), ayah menyekolahkan anak-anaknya di MTs Muhammadiyah Patikraja. Tentu disini menjadi tantangan buat kami yang harus belajar dan menyesuaikan dengan kondisi yang berbeda. Namun alhamdulillah kami dapat menyesuaikan dan memahami apa itu Muhammadiyah dan mengetahui apa yang diajarkannya.

Kami belajar tentang apa itu Muhammadiyah, siapa dan dimana didirikan, serta apa saja yang diajarkannya. Saat itu, saya sendiri belum tertarik untuk terjun langsung menjadi anggota, baik di IRM (IPM), IMM atau di badan ortom lain. Karena saat itu saya masih teguh dengan apa-apa yang telah diajarkan oleh ayah dan saya juga masih ikut aktif dikegiatan masjid yang saat itu sering disebut dengan Ikatan Remaja Masjid (IRMA). Dengan demikian saya semakin mantap untuk lebih aktif dan sampai akhirnya saya ikut keanggotaan Barisan Anshor Serbaguna (Banser).

Namun dengan berjalannya waktu, ternyata keaktifan saya dalam keorganisasian tersebut hanya dipandang sebelah mata oleh salah satu oknum yang menganggap saya hanya mau mencari penghidupan di NU. Semua itu hanya dikarenakan beliau telah mendapat info bahwa keluarga saya adalah lulusan dari sekolah Muhammadiyah, padahal saat itu ayah saya menjadi anggota Majelis Wakil Cabang NU (MWC NU), tapi ternyata tidak ada yang peduli.

Berangkat dari hal tersebut, maka saya benar-benar terpukul dan kecewa, kenapa bisa seperti itu padahal saya sudah niat lillaahi ta’ala untuk membesarkan organisasi yang selama ini saya tahu dari kecil. Akhirnya saya menikah dan hidup ditempat yang sekarang saya diami yaitu di sebuah desa yang saat itu sangat terkenal dengan kejahatan dan kemaksiatannya, yaitu Desa Cindaga Kecamatan Kebasen.

Di desa inilah saya memiliki tantangan tersendiri, karena disamping sebagai warga baru, ternyata saya dinilai dan dianggap sebagai orang Muhammadiyah dan untuk masyarakatnya juga masih banyak yang belum mau beribadah, juga masih suka malakukan kemusyrikan diantaranya kuda lumping. Selama satu bulan saya sudah mulai dipercaya untuk ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan, walaupun pada kenyataannya saya sambil belajar dan mulai mengingat apa yang telah dulu saya dapat dibangku MTs. Namun dengan berjalannya waktu, saya lebih semangat dan memutuskan untuk gabung disatu kesatuan komando yaitu Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam).

Sekarang tidak hanya menjadi anggota Kokam, namun saya sudah mulai aktif di Cabang dan dipercaya menjadi Sekretaris Majelis Tabligh, kemudian ikut aktif juga dikegiatan Ranting menjadi khotib di masjid-masjid yang dibina oleh Muhammadiyah. Dan alhamdulillah perkembangan sekarang desa saya sudah mulai jauh dari pandangan negatif dan Muhammadiyah juga sudah tidak dipandang kayak musuh. Muhammadiyah selalu berinovasi dalam menjalankan da’wahnya, semua itu dilakukan semata-mata agar dapat diterima oleh seluruh kalangan masyarakat.

Sampai sekarang masih terus berjuang dengan berbagai kekurangan dan kelebihan yang ada pada Muhammadiyah, terutama ditingkat Ranting dan Cabang, semua itu dikarenakan masih terbatasnya SDM di daerah saya. Namun saya semakin yakin dan semangat untuk tetap aktif berjuang di Muhammadiyah. Hal ini dibuktikan dengan adanya saya sudah memiliki NBM atau KATAM dan juga mengikuti program perkuliahan setara D1 Kemuhammadiyahan. Semua ini diharapkan saya semakin mantap dalam ber-Muhammadiyah dan sedikit tercerahkan dengan ilmu yang didapat dari para dosen. Mudah-mudahan apa yang sudah kita lakukan mendapat ridlo dari Alloh SWT dan menjadi amal jariyah untuk bekal kelak di akhirat. Semoga Muhammadiyah semakin maju, mencerahkan dan menjadi rahmat bagi seluruh alam, aamiin yaa Robbal ‘alaamiin.

Penulis : Ngimron Wachyudi



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama