Kurang Pahamnya Agama Jadi Faktor Konflik

Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki beribu-ribu  pulau yang tersebar dari sabang sampai merauke. Dari banyaknya pulau ini sehingga menciptakan berbagai keberagaman dari suku, bahasa, budaya, dan agama. Bahkan hal ini menjadi semboyan Indonesia "Bhineka Tunggal Ika" yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Namun, keberagaman ini tidak terlepas dari banyaknya konflik yang terjadi. Konflik tidak hanya terjadi pada perpolitikan saja, bahkan agama juga sering terjadi konflik.

Menurut Pusat Studi Kemanusiaan dan Pembangunan (6/8/2020), Indonesia menjadi negara yang paling religius di Asia Pasifik dengan lebih dari 83% penduduk Indonesia meyakini bahwa agama merupakan suatu hal yang penting. Karena dalam dasar negara Indonesia sudah sangat jelas tertera di sila pertama pancasila "Ketuhanan Yang Maha Esa", dan itu adalah pondasi utama bagi berdirinya Indonesia.

Dibalik semua itu, agama memiliki berbagai macam konflik internal maupun eksternal. Konflik agama di Indonesia menjadi konflik yang sering terjadi setelah konflik politik dan ekonomi. Bahkan dalam dunia perpolitikan, terkadang agama dikaitkan dan seakan diadu domba antargolongan. Konflik agama seperti ini tidak lain dikarenakan orang-orang yang tidak memahami betul ajaran agamanya, sehingga tidak ada bekal agama dalam dirinya. Maka dari itu sangatlah penting untuk mempelajari agama tidak hanya sekedar mengaku beragama tetapi tidak mengetahui bagaimana agama itu sendiri.

Konflik keagamaan ini menjadi salah satu pemicu perselisihan antarwarga, sehingga tidak adanya kerukunan di lingkungan sekitar. Apalagi jika itu adalah orang fanatik (yang selalu merasa golongannya lah yang paling benar), sehingga tidak bisa bertoleransi dengan umat lain. Seakan lupa bahwa negaranya adalah negara Indonesia yang memiliki beribu-ribu keberagaman.

Dengan kurangnya pemahaman orang pada ajaran agama membuatnya menjadi fanatik terhadap golongannya, dan jika itu dibiarkan terus menerus dan tidak ada pemahaman yang diterima  akan membuat orang itu mudah untuk berbuat kekerasan, pembantaian. Bahkan konflik agama juga akan berpengaruh pada kehidupan sosial, suatu lingkungan yang beragama sama saja terkadang memiliki konflik dan itu berpengaruh pada aktivitas sosial mereka. Mereka yang merasa golongan mayoritas menjadi semena-mena dan mengucilkan individu lainnya yang berbeda golongan, padahal mereka masih pada agama yang sama.

Toleransi merupakan suatu sikap yang menunjukkan perasaan menghargai satu sama lain dalam sebuah perbedaan yang nantinya akan dapat menciptakan kedamaian lingkungan. Menurut data dari kemenag.go.id (Rabu, 23 November 2022 14:01 WIB) menjelaskan ada 47,8% responden yang menyatakan pemdapatnya bahwa toleransi di Indonesia perlu ditingkatkan kembali. Bagaimana cara kita untuk menumbuhkan rasa toleransi pada masyarakat? Sebelum menumbuhkan rasa toleransi pada masyarakat, kita harus tanamkan dulu pada diri sendiri. Bagaimanapun juga semua itu berawal dari diri sendiri, kalau bukan kita siapa lagi. Ketika sudah tertanam pada diri kita rasa toleransi itu kemudian barulah tanamkan juga pada oranglain.

Sikap toleransi selalu menjadi hal utama untuk menengahi perbedaan agama. Namun, pada kenyataannya masih sedikit orang yang memiliki rasa toleransi. Karena kebanyakan dari mereka tidak mempunyai rasa toleransi dan itu akan menjadikannya orang yang semena mena terhadap orang lain. Toleransi sama saja dengan menghargai perbedaan, hal yang sangat kecil tapi bisa berdampak begitu besar. Ketika seseorang dalam lingkup yang menjadikannya sebagai mayoritas dan dia tidak memiliki rasa toleransi terhadap golongan yang lebih kecil sehingga bersikap semaunya sendiri dan merasa bahwa golongannya lah yang paling benar. Tapi apakah dia pernah berpikir ketika dirinya dalam posisi minoritas dan mendapat perlakuan yang sama? Dan menuntut pembelaan dengn mengatasnamakan keadilan juga toleransi?

Ya, seperti itulah manusia. Dia hanya akan ingat ketika dirinya berada di bawah. Baru menyadari bahwa hidup harus mempunyai rasa toleransi untuk mendapatkan ketentraman dalam kehidupam bermasyarakat. Karena kehidupan di dunia ini kita tidak hidup dengan orang-orang yang memiliki otak sama dan pemikiran yang sama. Perbedaan pastilah ada, namun kembali lagi pada diri sendiri bagaimana sikap kita dalam menghadapi perbedaan itu.

Dalam agama Islam sudah dijelaskan pada Qs. Al-Kafirun bahwa kita harus toleransi terhadap agama lain. Pada surat itu kita diajarkan bahwa kita tidak akan menyembah apa yang mereka sembah dan begitupula mereka tidak akan menyembah apa yang kita sembah. Dan juga pada Qs. Al-Hujurat:13 yang menjelaskan bahwa dalam hidup ini kita harus toleransi dan mengakui semua perbedaan (berbangsa-bangsa dan bersuku-suku) yang ada. Karena dengan perbedaan itulah kita diajarkan untuk saling mengenal (toleransi).

Tidak hanya pada agama Islam saja, tapi di semua agama mengajarkan tiap umatnya untuk saling toleransi dan hidup damai satu sama lainnya. Jadi, bagaimana bisa ada orang yang menolak untuk bersikap toleransi? Agama mana yang dia ambil? Ajaran dari agama mana yang dia pelajari? Mulailah belajar untuk mempunyai sikap toleransi dimulai dari hal-hal kecil dengan menghargai pemdapat oranglain.

Hargailah oranglain jika kau ingin dihargai oranglain, dalam hidup semua kembali pada bagaimana sikap kita terhadap orang lain"

Penulis : Khoirunisa Agustina (mahasiswa Prodi Hukum Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Purwokerto)



30 Komentar

  1. Nama : Risma Emiliani Putri
    NIM : 2109010048
    Semester : 4
    Prodi : Sastra Inggris

    BalasHapus
  2. Nama saya Muhammad Husain Nur Faiz Assyifa. Ingin menanggapi, Pernyataan "Kurang paham agama menjadi faktor konflik" mungkin benar dalam beberapa situasi, tetapi tidak sepenuhnya benar dalam semua kasus.

    Pada dasarnya, kurangnya pemahaman tentang agama atau keyakinan seseorang bisa menjadi faktor konflik ketika orang tersebut tidak menghormati keyakinan orang lain dan memaksa pandangan atau praktek agama mereka pada orang lain. Misalnya, jika seseorang yang kurang paham tentang agama memandang orang dari keyakinan yang berbeda sebagai musuh atau sebagai orang yang salah, maka ini dapat menyebabkan konflik dan ketegangan antara kelompok.

    Namun, perlu dicatat bahwa ada banyak faktor yang dapat menyebabkan konflik, seperti perbedaan politik, ekonomi, budaya, dan sejarah. Seseorang yang sangat paham tentang agama mereka sendiri dapat terlibat dalam konflik karena perbedaan pandangan politik atau budaya dengan orang lain yang memiliki keyakinan yang sama. Oleh karena itu, kurangnya pemahaman tentang agama tidak selalu menjadi faktor utama yang menyebabkan konflik, dan tidak selalu dapat dianggap sebagai satu-satunya faktor penyebab konflik.

    Dalam konteks ini, penting bagi individu untuk mempelajari dan memahami agama dan keyakinan orang lain secara respektif dan saling menghormati. Dengan begitu, diharapkan dapat mengurangi risiko terjadinya konflik yang mungkin disebabkan oleh perbedaan agama dan keyakinan.

    BalasHapus
  3. Nama: Aulia Shafa M
    NIM: 2109010040

    BalasHapus
  4. Nama : Clarissa Adaira
    NIM : 2109010046
    Semester : 4
    Prodi : Sastra Inggris

    BalasHapus
    Balasan
    1. Izin menanggapi mengenai, iya memang kurang pahamnya agama menjadi faktor konflik, adanya persepsi mengenai suatu ajaran agama tertentulah yang paling benar dan menganggap ajaran kelompok lain merupakan hal yang sesat dan harus di musnahkan, tak jarang kita menemui orang yang seperti ini di sekitar kita. Karena mininmnya pengetahuan mengenai agama yang ia peroleh, maka ia akan
      n memprovokasi orang lain akan pikirannya sehingga dapat menyebabkan terjadinya sebuah konflik.

      Hapus
  5. Nama : Inggih Ginasti
    NIM : 2109010052
    Prodi : sastra inggris

    Saya sangat setuju jika agama sangatlah berperan penting di dalam lingkungan masyarakat. orang yang beragama tentunya akan lebih berhati hati dalam bertindak sesuai dengan apa yang di ajarkan oleh agama yang mereka anut. kehidupannya juga jauh lebih tertata dan rapi karena mereka meninggalkan apa yang di larang oleh agamanya. tetapi bukan hanya menyandang status beragama, tetapi kita jhga harus memahami betul agama yang kita anut itu.

    BalasHapus
  6. Nama : Devita Aprilia
    NIM : 2109010005
    Program Studi : Sastra Inggris
    Semester : 4

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan pernyataan “kurangnya pemahaman orang pada ajaran agama membuatnya menjadi fanatik terhadap golongannya”. Hal ini masih banyak sekali saya jumpai di lingkungan sekitar tempat tinggal saya. Segala hal yang berlebihan memang tidak baik termasuk juga dalam hal beragama.

      Hapus
  7. Kemala Diah Tri Hayati (2109010016)
    Sastra Inggris / Semester 4

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya pribadi, saya setuju dengan pernyataan pada artikel ini bahwa seringkali konflik antar umat beragama terjadi akibat kurangnya pemahaman dalam mempelajari dan merealisasikan tuntunan yang ada di dalam agamanya masing-masing. Sebagai orang muslim, Al-Quran adalah pedoman yang sangat penting bagi kehidupan saya, atau bahkan sesama rekan orang muslim lainnya selama hidup di dunia. Baik buruknya perilaku manusia seseorang sudah tertulis dalam Al-Quran.

      Namun, kembali lagi bahwa setiap manusia pasti ada kapasitas tersendiri dalam memahami ilmu yang ada dalam kitab suci masing-masing. Sehingga, sebagai hamba Allah yang banyak memiliki ketidaksempurnaan ini sudah sepatutnya untuk tidak merasa 'lebih sempurna dari orang lain.' Masing-masing dari kita seharusnya saling melengkapi, bukan malah menjadi ajang mencari keributan atau konflik hanya karena adanya perbedaan. Karena seperti yang kita tahu, Indonesia adalah negara yang menjujung tinggi Bhineka Tunggal Ika.

      Terlepas dari tanggapan saya tentang konflik umat beragama di atas, artikel ini sangat bagus dan membuka wawasan saya lebih luas terkait fakta-fakta yang ada di Indonesia terutama dalam hal religi. Terima kasih.

      Hapus
  8. Nama : Winda Septiani
    NIM : 2109010009
    Prodi : Sastra Inggris
    Semester 4

    BalasHapus
  9. Nama: Diandra Fauzah Avrilitha
    NIM: 2109010004
    Program Studi: Sastra Inggris
    Semester: 4

    Kita semua harus paham dengan agama yang kita miliki dan memperdalam ilmu agama kita. Namun, kita tidak boleh merasa bahwa agama yang baik hanya milik kita sendiri, sehingga kita menjauhkan orang lain meskipun mereka satu agama dengan kita. Sikap toleransi juga diperlukan agar kita tetap menjunjung Bhineka Tunggal Ika dan agar tetap menjalin hidup rukun dengan sesama warga Indonesia.

    BalasHapus
  10. Rikhanaya Zahrya Putri
    1909010035
    Sem 8

    BalasHapus
  11. Nama : Consenda Syabila Anali
    NIM : 2109010003
    Prodi : Sastra Inggris
    Semester : 4

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satu masalah dalam komunikasi antar agama yang terjadu sekarang ini, khususnya di Indonesia, adalah munculnya sikap toleransi malas-malasan. Sikap ini muncul sebagai akibat dari pola perjumpaan tak langsung (indirect encounter) antar agama, khususnya menyangkut persoalan teologi yang sensitif. Sehingga kalangan umat beragama merasa enggan mendiskusikan masalah-masalah keimanan. Tentu saja, dialog yang lebih mendalam tidak terjadi, karena baik pihak yang berbeda keyakinan/agama sama-sama menjaga jarak satu sama lain. Lalu muncul faktor lain yang menimbulkan konflik yaitu kekacauan politik yang ikut memengaruhi hubungan antaragama dan bahkan memorak-porandakannya seolah petir menyambar yang dengan mudahnya merontokkan “bangunan dialog” yang sedang kita selesaikan. Seperti yang sedang terjadi di negeri kita saat ini, kita tidak hanya menangis melihat political upheavels di negeri ini, tetapi lebih dari itu yang mengalir bukan lagi air mata, tetapi darah; darah saudara-saudara kita, yang mudah-mudahan diterima di sisi-Nya. Tanpa politik kita tidak bisa hidup secara tertib teratur dan bahkan tidak mampu membangun sebuah negara, tetapi dengan alasan politik juga kita seringkali menunggangi agama dan memanfaatkannya.

      Hapus
  12. Nama: Cecillia Jhovanca Pramudita
    NIM: 2109010032
    Prodi: Sastra Inggris semester 4

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan Sikap toleransi selalu menjadi hal utama untuk menengahi perbedaan agama, karena menurut saya jika dengan adanya sikap toleransi terhadap agama yang berbeda dari yang kita anut dapat mencegah adanya konflik dalam beragama. Jika dengan tidak adanya sikap toleransi, maka akan muncul timbulnya konflik

      Hapus
  13. Rikhanaya Zahrya Putri
    1909010035
    Sem 8/ Prodi Sastra Inggris

    BalasHapus
  14. Nama : Fiska Olivia Putri
    NIM : 2109010025

    Saya sendiri merupakan seorang umat atau lebih tepatnya seseorang yang memiliki agama. Tentunya di Indonesia seperti yang sudah dijelaskan diatas banyak sekali agama-agama yang sah berlaku di Indonesia, sikap  toleransi memang harus benar-benar ditegakkan karena karena pola masyarakat kita sendiri sangat minim rasa toleransi antara umat pemeluk agama lain. Iya saya setuju dengan pendapat diatas bahwa lingkaran mayoritas masyarakat Indonesia masih membedakan antar agama. Minimnya sifat menghormati agama lain dan juga kurang kesadarannya atas hak umat beragama. Seperti yang di sebutkan diatas pada Konstitusi Indonesia, yakni UUD '45 jelas menegaskan akan jaminan kebebasan beragama, dalam Pasal 28E ayat 1.

    Sebagai seorang yang memiliki agama tentunya saya sendiri menyadari akan pentingnya toleransi antar sesama manusia, saya yakin semua paham bahwa kita semua diciptakan dari Tuhan, walaupun berbeda kepercayaan. Tentunya saya juga harus melakukan toleransi yang baik dan membangun lingkungan yang damai dan tidak ada kerusuhan sepele akibat berbeda atau pola pikir umat masing-masing. Tidak kah kita malu jika sesama makhluk hidup tuhan harus saling bersekutu dan saling tidak akur. Hanya kepercayaan atau agama yang berbeda namun semestinya nilai moral dalam diri kita jangan berbeda. Harus saling menyayangi dan saling mengasihi antar sesama manusia.

    BalasHapus
  15. Nama: Evi S Nainggolan
    NIM: 2109010011

    BalasHapus
  16. Nama: Salsabila Nur Hanita
    NIM: 2109010058

    BalasHapus
  17. Nama: Dhiva Alfath Al Dhani
    NIM: 2109010042
    Prodi: Sastra Inggris

    Bismillah, menanggapi artikel yang dipublikasikan, saya mengambil beberapa poin yang sering menjadi permasalahan dan perdebatan yang seringkali mengakibatkan perpercahan dan ketidakharmonisan ummat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pertama, ummat Islam di Indonesia kerap berbeda pendapat mengenai fiqh dalam menjalankan syari'at. Perbedaan pendapat dalam fiqh bukanlah mengenai diterima atau tidak diterimanya suatu amal, namun fiqh merupakan salah satu dari banyak hal yang diajarkan rasul, dan fiqh tidak hanya dalam satu versi, melainkan banyak, sehingga terjadi lah perdebatan karena kebanyakan ummat ada yang merasa bahwa dirinya itu yang paling benar.

      Kedua, sebagai ummat Nabi SAW, sebaiknya kita menjunjung tinggi ukhuwah kita, saling memahami perbedaan fiqh dalam menjalankan syari'at kita, dan berperilaku sopan dan baik terhadap sesama. Dengan menjunjung sifat sifat tersebut, diharapkan kita dapat menjadi ummat yang baik dan beemanfaat bagi lingkungan sekitar kita.
      Wallahu A'lam.

      Hapus
  18. Nama saya Aliya Nur Rahma merupakan Mahasiswa Sastra Inggris Tahun 2021 izin menanggapi tentang artikel diatas. Deskripsi diatas mengenai toleransi beragama sangat betul dan amat relate terhadap kehidupan yang ada di Indonesia. Sering kali kita kerap menemukan oknum yang tidak memiliki rasa toleransi atau memiliki rasa superpower hanya karena mereka adalah mayoritas. Tanpa mereka ketahui bahwa minoritas sendiri juga memiliki hak yang sama yaitu beragama. Hanya karena agama yang dianut atau aliran yang dianut tidak sama dengan apa yang mereka anut. Kadang oknum mayoritas dapat semena mena terhadap oknum minoritas.

    Padahal dalam Islam, Al-Qur'an sudah menjelaskan tentang perbedaan. Seperti yang tertulis pada artikel Q.S Al-Kafirun:6 yang menjelaskan bahwa "untuku agamamu, untuku agamaku" yang mana kita sudah memiliki tupoksi sendiri dalam beribadah. Yang berarti dapat diartikan, janganlah membuat kegaduhan hanya karena perbedaan. Hiduplah berdampingan dan saling menghormati satu sama lain.

    Salah satu cara untuk menghindari perilaku tersebut selain memperkuat agama adalah, kita bisa menanamkan nilai toleransi sejak dini kepada anak/adik-adik kita. Supaya saat mereka sudah dewasa, perbedaan bukanlah hal yang tabu dan patut untuk diperdebatkan. Melainkan perbedaan adalah suatu warna yang dapat memperindah suatu kesatuan.

    koreksi typo pada kata "pemdapatnya, kehidupam"

    BalasHapus
  19. Yasmine Kartika SW (2109010019)

    Agama Islam sangat menekankan kepada umatnya agar memilki akhlak, perangai, budi pekerti yang luhur, mulia lagi terpuji (akhlak karimah/akhlak mahmudah). Karena hanya dengan perangai yang bagus ini akan menjadi daya perekat dalam tata pergaulan dengan sesamanya, dan lebih jauh lagi ia menjadi kunci untuk mendekatkan diri kepada Allah. Penegasan mengenai arti pentingnya peranan akhlak ini dapat dibuktikan dari pernyataan Rasulullah SAW sendiri bahwa hakekat Allah mengutus dirinya terjun di tengah-tengah umat itu tidak lain kecuali untuk membimbing dan menyempurnakan akhlak umat manusia. Jadi, pemahaman agama itu dapat dilihat ketika mereka beriman, yaitu mengakui adanya Allah, Rasulullah, malaikat, kitab Allah, hari akhir, dan qada’ dan qadhar. Selain itu ketika mereka dapat menerapkan lima rukun islam. Jika mereka dapat menerapkan ketiga hal tersebut, mereka dapat dikatakan bahwa mereka dapat memahami tentang agama.

    BalasHapus
  20. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  21. Kaila Azka ZR 2109010059

    Saya setuju dengan artikel ini, namun, dalam kondisi
    tertentu, meskipun seseorang memiliki pemahaman yang baik dan sangat menerapkan hal-hal yang dianggap tidak merugikan antar golongan terhadap agama, tetapi jika tidak memiliki toleransi dan sikap menghormati kepercayaan orang lain, konflik tetap dapat terjadi. Perlunya keseimbangan antara dua hal tersebut, agar bisa menghindari konflik yang dapat terjadi.

    BalasHapus
  22. Bathary Nada 2109010035

    Banyaknya keberagaman di Indonesia pasti akan ada konflik yang terjadi dalam konteks agama. Di Indonesia, agama memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan sosial dan politik. Namun, sering kali konflik agama terjadi karena kurangnya pemahaman mengenai ajaran agama, fanatisme, dan ketidakmampuan untuk menerima perbedaan. Artikel ini mengajak pembaca untuk memahami pentingnya toleransi dalam menumbuhkan keharmonisan dan kerukunan dalam masyarakat. Menumbuhkan rasa toleransi dimulai dari diri sendiri dan diharapkan akan menyebar ke lingkungan sekitar.

    BalasHapus
  23. Nama : Tri Astuti Ningsih
    Nim : 2109010010
    Program Studi : Sastra Inggris

    BalasHapus
  24. Nama : Tri Larisma Damayanti
    NIM : 2102010189
    Prodi : Manajemen

    Konflik yang disebabkan oleh kurang pemahaman terhadap agama sering terjadi di seluruh dunia. Seringkali, kelompok yang terlibat dalam konflik ini berdalih bahwa tindakan mereka didasarkan pada keyakinan agama mereka, tetapi sebenarnya mereka kurang memahami ajaran sebenarnya. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kurang pemahaman terhadap agama, termasuk kurangnya pendidikan agama yang memadai, penafsiran yang salah atau keliru terhadap ajaran agama, dan pengaruh budaya atau politik yang membingungkan atau mengaburkan pandangan tentang agama.
    Selain itu, kadang-kadang kelompok-kelompok tertentu menggunakan agama sebagai sarana untuk memperkuat identitas kelompok mereka dan mempertahankan kekuasaan, sehingga mereka mungkin sengaja memperkuat pandangan sempit atau ekstrem tentang agama mereka. Dalam hal ini, penting bagi individu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang ajaran agama mereka dan berusaha untuk menghindari tafsir yang sempit atau ekstrem. Lebih penting lagi, individu harus mempraktikkan nilai-nilai seperti toleransi, pengertian, dan rasa hormat terhadap keyakinan orang lain, terlepas dari perbedaan keyakinan agama.
    Kita harus memperjuangkan pendidikan agama yang lebih baik dan mendorong dialog antarumat beragama, sehingga kita dapat membangun pengertian dan mengurangi konflik yang disebabkan oleh ketidakpahaman terhadap agama.

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama