Dinamika Muhammadiyah di Desa Kawungcarang Sumbang

Sebagai warga baru di Dukuhwaluh selama lima tahun dengan lingkungan masyarakat komplek mayoritas NU, membuat saya lupa dengan kebiasaan warga Muhammadiyah. Tepatnya di desa tempat saya dibesarkan, di Desa Kawungcarang, Kecamatan Sumbang. Dulu selama lima belas tahun saya dibesarkan oleh keluarga Ayah yang memang anggota Muhammadiyah dan lingkungan desa yang mayoritas Muhammadiyah.

Kakek saya merupakan mantan anggota pimpinan cabang Muhammadiyah Sumbang, Nenek saya juga merupakan mantan guru mengaji Aisyiah, dan Ayah saya yang juga ketua pimpinan cabang pemuda Muhammadiyah Sumbang. Sedangkan ibunda berlatar belakang keluarga NU. Walaupun kedua orang tua mengikuti organisasi berbeda, saya di sekolahkan dengan sekolah berlatar Al Irsyad Al Islamiyyah. Jadi tak heran saya kurang memahami betul mengenai Muhammadiyah maupun NU. Namun lambat laun dengan perpindahan lingkungan dari tinggal di masyarakat mayoritas Muhammadiyah dengan berpindah tinggal dengan mayoritas masyarakat NU, membuat saya sedikit sedikit mulai memahami perbedaan Muhammadiyah dan NU. Dan ketika saya berkuliah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, di situlah saya banyak mengerti tentang tradisi keilmuan dan budaya Muhammadiyah.

Muhammadiyah merupakan gerakan dakwah Islam amar ma'ruf nahi munkar dan tajdid yang bersumber pada al-Qur'an dan as-Sunnah. Di Desa Kawung Carang yang mayoritas Muhammadiyah jarang sekali terlihat ada acara tahlilan maupun yasinan selepas jenazah dimakamkan siang atau sore harinya. Cukup anak anak nya dan sanak saudara yang mendokan almarhum.

Semenjak saya pindah ke Dukuhwaluh, hampir setiap ada orang yang wafat, hampir setiap malam terdengar orang membaca tahlil dan surat yasin, wajib membawa amplop ketika berkunjung, bersifat kumpul-kumpul, mendoakan orang yang sudah wafat secara bersama-sama dengan sajian makanan. Cara warga Muhammadiyah solat tarawih adalah 11 rakaat, biasanya dengan surat yang panjang. Sementara NU di Dukuhwaluh kompleks saya, yaitu sebanyak 23 rakaat dengan bacaan cepat dan pendek. Tapi dari perbedaan kebiasaan dan interaksi yang berbeda tersebut membuat saya belajar bahwa perbedaan adalah realitas yang tidak mungkin dihindari. Berbeda itu wajar, yang penting selalu menghormati dan tidak merasa paling benar.

Setelah saya mengunjungi Desa Kawungcarang untuk mengobrol dengan kakek tentang Muhammadiyah disekitar desa, ternyata tradisi pengajian besar bergilir masih dilaksanakan untuk warga Muhammadiyah. Pengajian setiap malam minggu, pengajian jumat pagi atau subuh, setiap ahad pon, itu selalu ada pengajian besar bergilir setiap ranting Muhammadiyah. Pembagian sedekah setiap jumat di masjid juga selalu lancar. Muhammadiyah sangat menjunjung tinggi toleransi dan mendorong warga persyarikatan untuk melebur dalam setiap kegiatan masyarakat, apa pun latar belakangnya.

Usaha dan kegiatan Muhammadiyah di Kawungcarang cukup eksis dalam bidang keagamaan meliputi pemberian tuntunan dalam ibadah akhlak berdasarkan al-Quran dan as-sunnah, didiraknnya masjid dan musallah di Desa Kawungcarang, menelaah berbagai kajian ke-Islaman dan perkembangan umat Islam dalam berdakwah. Lalu dalam bidang sosial kemasyarakatan dengan warga memanggilnya “Hari Lingkungan Hidup”.

Di Hari Lingkungan Hidup, masyarakat melakukan pembersihan kuburan, masjid, membuang sampah, membersihkan seolakan. Dalam bidang sosial, warga juga sangat peduli dalam membuka posko Kesehatan, diadakannya periksa Kesehatan terutama untuk bayi untuk imunisasi dan ibu hamil di Kantor Desa atau di Pos Kamling. Berpartisipasi aktif dalam pengembangan usaha-usaha pembangunan yang berwawasan lingkungan hidup. Kesadaran dan usaha-usaha penciptaan lingkungan yang sehat dan bersih khususnya di kalangan warga Muhammadiyah dan umat Islam sesuai ajaran Islam yang sangat menaruh perhatian terhadap kesehatan, sehingga tercipta tradisi hidup sehat di lingkungan yang juga sehat.

Di Desa Kawungcarang juga terdapat gerakan sosial persyarikatan Muhammadiyah di bidang pendidikan, yang meliputi pendidikan yang beroerientasi kepada sistem pendidikan umum dan TPA/TPQ. Visi penyelenggaraan pendidikan Muhammadiyah adalah tertatanya jaringan pendidikan yang efektif sebagai gerakan Islam yang maju, profesional dan modern serta meletakkan landasan yang kokoh bagi peningkatan kualitas pendidikan Muhammadiyah. Kawungcarang sudah memiliki TK Aisyiah sejak dahulu dan masih berjalan hingga saat ini.

 Di Masjid Baiturrozaq, dengan teratur membuka TPA dan TPQ bagi anak anak dan remaja setiap sore. Tak lain dengan dibukanya pendidikan seperti itu membangun penyebaran ajaran Islam yang bersumber kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, mewujudkan amal islami dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat, menjadikan Lembaga Pendidikan menjadi dakwah. Pada hakikatnya, lembaga Muhammadiyah Desa Kawungcarang, ada potensi untuk maju, jika diperhatikan sumber daya, serta kerja sama dengan pihak-pihak dan perlu pemimpin yang memiliki visioner.

Dalam bidang keyakinan, masyarakat Desa Kawungcarang memperoleh pencerahan terutama yang terkait dengan tahayul, bid’ah dan khurofat. Kini masyarakat Kawungcarang pada umumnya dan warga Muhammadiyah pada khususnya lebih berpikir rasional dalam menyikapi hidup ini.

Penulis : Bathary Nada (mahasiswa Prodi Sastra Inggris Universitas Muhammadiyah Purwokerto)



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama