Guru dalam Pemulihan Pendidikan Pasca Pandemi

Di zaman modern seperti sekarang masih banyak orang yang menyepelekan pendidikan, terutama di daerah – daerah pedesaan yang dimana masih kurangnya akses jalan ke desanya. Sehingga fasilitas pendidikan disana juga kurang memadai. Hal ini menjadikan masyarakatnya perfikir untuk lebih baik bekerja saja yang bisa menghasilkan uang daripada sekolah yang hanya membuang-buang uang. Padahal dengan kita besekolah kita akan mendapatkan pembelajaran baru yang nantinya bisa kita kembangkan menjadi hal yang bermanfaat.

Pendidikan merupakan hal yang penting dan menjadi kebutuhan bagi setiap manusia. Sehingga setiap manusia berhak mendapatkan pendidikan dan diharapkan untuk selalu berkembang didalamnya. Pendidikan secara umum mempunyai arti suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri tiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan. Menurut Prof. Zaharai Idris, Pendidikan ialah serangkaian kegiatan komunikasi yang bertujuan, antara manusia dewasa dengan si anak didik secara tatap muka atau dengan menggunakan media dalam rangka memberikan bantuan terhadap perkembangan anak seutuhnya.

Dalam hal ini orang tua menjadi guru pertama bagi anak-anaknya dalam memperoleh pendidikan. Pendidikan yang pertama kali didapatkan oleh anak di lingkungan keluarga, kemudian di lingkungan sekolah dan di lingkungan masyarakat. Pendidikan yang diberikan orang tua kepada anak termasuk dalam pendidikan yang diperoleh dari lingkungan keluarga. Sejak lahir manusia dididik di lingkungan keluarga untuk menjadi manusia yang berguna dan memiliki sopan santun terhadap sesama. Pada waktu kecil kita diberitahu oleh ibu untuk bersikap sopan terhadap orang yang lebih tua, belajar menghormati orang lain, dan berusah untuk bisa berbagi kepada orang yang kurang mampu.

Disisi lain seorang anak juga membutuhkan pendidikan di sekolah. Dimana sekolah sebagai lembaga formal yang dipercayai oleh orang tua siswa untuk mendidik para anak-anaknya dan bertanggungjawab terhadap perilaku anknya selama disekolah. Disekolah anak diajar oleh guru yang menjadi orang tua kedua bagi anak pada saat disekolah. Saat ini tugas guru bukan hanya mengajarkan berbagai mata pelajaran kepada peserta didik, tetapi lebih dari itu yaitu guru diminta untuk membina peserta didiknya supaya menjadi manusia dewasa yang bertanggungjawab. Dengan demikian maka semua aspek kepribadian peserta didik dapat berkembang dengan baik.

Pendidikan menjadi hal yang sangat penting bagi semua orang, dimulai dari kita lahir sampai nanti kita meninggal kita secara langsung maupun tidak langsung kita akan terus belajar. Belajar untuk mengetahui hal-hal baru yang sebelumnya belum kita ketahui. Di Indonesia pemerintah sudah menetapkan adanya peraturan wajib belajar selama 12 tahun. Bahkan diharapkaan dapat terus melanjutkan pendidikan formal ke jenjang kuliah.

Pendidikan di sekolah pasti erat kaitannya dengan kurikulum pendidikan. Kurikulum pendidikan selalu mengalami perubahan seiring dengan bergantinya pemimpin bangsa ini. Perubahan ini juga terjadi agar dapat menyesuaikan dengan cepatnya perkembangan zaman saat ini. Adanya kurikulum pendidikan itu menjadi suatu hal penting dalam kencaran pendidikan di Indonesia yang dimana kurikulum menjadi pedoman dan memberikan arah dalam mengajar. Seperti penyataan salah seorang pakar bernama Beauchamp bahwa kurikulum merupakan jantungnya pendidikan (Beauchamp, 1998).

Beberapa bulan kemarin saya pernah mengikuti program Kampus Mengajar yang merupakan bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Dimana saya sebagai mahasiswa akan ditempatkan di sekolah sekolah yang sudah ditentukan baik SD maupun SMP guna membantu sekolah dalam pengembangan Literasi, Numerasi, dan Adaptasi Teknologi serta pengenalan Kurikulum Merdeka. Dimana pada saat saya mengikuti program ini pada saat kondisi pendidikan di sekolah mulai kembali berjalan secara luring. Seperti yang kita semua tau bahwa kurang lebih selama dua tahun terakhir kondisi dunia sedang tidak baik dengan adanya wabah virus Covid-19 yang mampu melumpuhkan berbagai aspek kehidupan, salah satunya aspek pendidikan. Hal ini membatasi ruang gerak kita semua, dimana dalam dunia pendidikan di sekolah yang seharusnya pelaksanaan pembelajar secara tatap muka berganti menjadi pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan media jaringan ponsel peserta didik dan orangtua. Dengan diberlakukannya pembelajaran jarak jauh (daring) ini juga muncul berbagai kendala dalam pelaksanaannya, seperti adanya peserta didik yang kesulitan akses internet karena lokasi tempat tinggalnya yang memang masih kurang dari jangkauan internet, keterbatasan tidak adanya ponsel karena kondisi ekonomi orangtua yang masih serba kekurangan, dan masih banyak yang lainnya.

Setelah kurang lebih dua tahun kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara daring (online). Kini perlahan-lahan dunia pendidikan mulai bangkit dengan mulai diberlakukannya pembelajaran secara tatap muka walaupun belum 100% tetapi hal ini patut kita syukuri. Peserta didik bisa kembali ke sekolah dan bertemu kembali dengan teman-teman. Kondisi ini juga membuat peserta didik tentunya lebih bersemangat lagi untuk pergi ke sekolah. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa dibalik mulai pulihnya pendidikan di Indonesia ini mendatangkan tantangan baru untuk guru dalam mengajar didalam kelas. Dimana setelah dua tahun lamanya belajar secara daring pastinya membuat peserta didik kurang maksimal dalam menyerap materi yang telah diberikan oleh gurunya.

Kegiatan pembelajaran pascapandemi ini juga membuat guru harus lebih peka terhadap kempuan peserta didiknya. Karena selama 2 tahun belajar dari rumah pastinya ada peserta didik yang malas – malasan dalam membaca materi yang telah diberikan oleh gurunya. Peserta didik yang seperti itu biasanya akan menganggap remeh pendidikan karena tidak dipantau langsung oleh guru, adapun orang tua dirumah juga memiliki kesibukan dalam bekerja dan yang lainnya yang membuatnya tidak dapat memantau secara langsung ketika anaknya sedang ada pembelajaran daring. Sehingga ketika mulai kembali diberlakukan pembelajaran secara tatap muka banyak peserta didik yang

Hal ini menuntut guru untuk dapat lebih kreatif dalam menyampaikan materi kepada peserta didiknya. Dalam penyampaian materi di dalam kelas tentunya tidak terlepas dari penggunaan media pembelajaran yang digunakan oleh guru, seperti penggunaan proyektor, komputer (laptop), spreaker, dan masih banyak media lainnya. Penggunaan media pembelajaran tersebut dapat menarik minat peserta didik dalam pembelajaran didalam kelas maupun diluar kelas. Seperti pada saat saya mengikuti program kampus mengajar saya memperhatikan ketika dikelas 5 guru menggunakan media laptop supaya peserta didik dapat mencari tau mengenai tari piring di youtube kemudian peserta didik dapat menghafalkan tarian tersebut guna nantinya diambil nilainya.

Pada tingkatan sekolah dasar setiap kelas tentunya menggunakan strategi media pembelajaran yang berbeda sesuai tingkatannya. Saya pernah mengisi di kelas satu, dimana mereka pada saat semester satu masing melakukan pembelajaran jarak jauh (daring) dan ketika di semester dua mereka mulai diuji coba untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka di sekolah (luring). Nah, disini kita sangat memerlukan media pembelajar yang dapat menarik siswa untuk bisa fokus menerima materi yang diberikan. Di kelas satu untuk kegiatan literasi saya dan teman-teman dari kampus mengajar menggunakan media steroform dan kartu huruf yang kita tempelkan pada steroform, nanti peserta didik diberi satu kata, nama buah, nama hewan ataupun nama benda, kemudian mereka diminta untuk menyusun kata tersebut dari kartu huruf yang dan dan ditempelkan pada steroform. Dengan media tersebut dapat menambah semangat peserta didik dalam memahami materi yang diberikan

Dengan menggunakan media pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan minat belajar dari peserta didik. Selain menggunakan media pembelajaran guru juga sangat membutuhkan buku ajar yang berisi materi pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik. Peran buku ajar disini pastinya sangat penting, karena dari buku ajar tersebut terdapat materi pembelajaran sesuai dengan kaidah kurikulum yang dipakai. Namun selain menggunakan buku ajar, guru juga membutuhkan buku pendamping guna melengkapi materi dari buku ajar yang masih kurang lengkap. Karena biasanya buku ajar didesain dengan materi yang sudah diringkas sehingga buku tidak terlalu tebal. Sehingga peserta didik tidak merasa keberatan ketika harus memiliki (membeli) buku ajar (modul). Maka dari itu guru juga membutuhkan buku pendamping pelajaran yang nantinya buku tersebutu cukup dimiliki oleh guru saja.

Keadaan pendidikan kita pasca pandemi saat ini sangat membutuhkan perhatian lebih. Baik untuk peserta didik, guru bahkan kondisi sekolahnya. Dari pengalaman saya ketika mengikuti program kampus mengajar, saya melihat secara langsung bagaimana kondisi peserta didik ketika mereka kembali belajar secara tatap muka. Selain dari sisi penyerapan materi pembelajaran, pendidikan karakter bagi peserta didik setelah mereka mengalami pembelajaran jarak jauh (daring) selama dua tahun ini juga perlu diperhatikan. Karena dari yang saya lihat pada jenjang sekolah dasar, untuk peserta didik yang saat ini memasuki kelas 4 berarti sebelum adanya pandemi peserta didik tersebut berada di bangku kelas 2, nah dari karakter peserta didik kelas 4 saat ini itu masih kurang. Jadi peserta didik ini memang sudah duduk di bangku kelas 4, tetapi pola berpikir dan tingkah lakunya masih seperti siswa kelas 2. Hal ini tentunya juga menjadi sesuatu yang perlu mendapat perhatian lebih dari guru nya disekolah.

Kita patut bersyukur dengan kondisi pendidikan di Indonesia saat ini yang sudah mulai bangkit. Kembali seperti dulu sebelum adanya pandemi covid-19 dimana kita tidak dibatasi ruang gerak kita. Namu walaupun saat ini kondisi sudah mulai membaik tetap kita harus menerapkan protokol kesehatan meski tidak seketat dulu. Hal ini perlu terus kita lakukan agar kondisi pendidikan kita juga semakin baik lagi dan terus membaik.

Sebagai garda terdepan dalam pemulihan pendidikan pasca pandemi guru memikul tanggungjawab yang cukup berat guna mengejar ketertinggalan peserta didik akibat kendala-kendala yang dialami selama diberlakukannya pembelajaran jarak jauh (daring). Disisi lain guru juga pastinya membutuhkan dukungan moril dari berbagai pihak guna melaksankan tanggungjawab tersebut. Selain dukungan moril guru juga membutuhkan dukungan materil seperti tercukupinya sarana dan prasarana yang dibutuhkan guna tercapainya tujuan pendidikan.

Dari kegiatan kampus mengajar saya belajar banyak mengenai dunia pendidika dengan terjun langsung di sekolah. Bahwa ketika kita akan mengajar sebelum memasuki ruang kelas banyak sekali hal-hal yang perlu disiapkan sebelumnya. Kita membutuhkan buku ajar sebagai sumber dari materi yang akan kita sampaikan. Kita membutuhkan media pembelajaran sebagai sarana penyampaian materi dan juga menjadi penarik perhatian peserta didik supaya menjadi lebih fokus pada saat pembelajaran dimulai. Dua hal tersebut sangat penting dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Karena dua hal tersebut bersifat saling mendukung satu sama lain.

Penulis : Nur Fitriana (mahasiswa Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Purwokerto)



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama