Mie Ayam dan Sedekah

Pembisnis yang saya pilih ini adalah seorang pembisnis yang tidak mudah putus asa dan selalu berusaha dalam melakukan usahanya bukan hanya itu saja ia seorang yang sangat rajin beribadah dan puasa Sunnah. Pada tahun 2010, Yusuf Arif lulus dari kuliahnya dari Universitas Muhammadiyah Ponorogo, karena baru lulus dari kuliahnya tentu saja seorang sarjana ingin secepatnya mendapatkan pekerjaan yang di inginkan, Yusuf ingin sekali bekerja di sebuah bank. Karena keinginanya untuk segera mendapatkan pekerjaan ia pun langsung membuat surat lamaran pekerjaan di Ponorogo, tak hanya di Ponorogo ia juga berusaha menyebar surat lamaran pekerjaan ke Yogyakarta dan Surabaya. Dan akhirnya, salah satu dari surat lamaran pekerjaannya diterima di sebuah perusahaan keuangan tentu saja Yusuf merasa senang karena dengan cepat ia mendapat pekerjaan dengan mudah di saat situasi yang sangat sulit untuk mencari pekerjaan.

Yusuf setelah beberapa bulan akhirnya keluar dari pekerjaannya, setelah itu akhirnya ia mendirikan usaha kedai mie, ia mendirikan usahanya karena adanya sindiran dari bosnya bahwa masa bekerja satu bulan hanya mendapat gaji 900 ribu/ bulan. Ia berfikir positif atas sindiran yang ia terima kalau tidak maka akan merasa tersinggung justru karena perkataan tersebut bahwa sindirannya itu sebagai dorongan untuk lebih maju atau malah jadi tantangan untuk berubah menjadi baik lagi. Karena ia merasa termotivasi dari sindiran tersebut dan ia sudah sering mengikuti pelatihan kewirausahaan untuk itu ia mengamalkan ilmunya pada kesempatan yang baik ini. Kenapa yusuf mendirikan usaha mi ayam? Itu karena ia sudah pernah bekerja di sebuah warung mie ayam dan ia sudah mengetahui semua resep untuk membuat mie ayam yang enak.

Pada bulan Mei 2011, ia membuka kedai mienya karena ia belum mempunyai modal yang cukup ia rela mengadaikan motor satu-satunya untuk modal yaitu 15 juta. Sepeda motornya awalnya tidak laku segitu tetapi orang tersebut mempercayai untuk memberikan uang lebih kepada Yusuf untuk modal awal. Uangnya ia gunakan untuk menyewa tempat, membeli peralatan dan belanja bahan-bahan untuk membuat kedai mie, ia membuka petama di jalan MT Haryono. Karena sudah banyak yang menjual mi, membuat Yusuf berfikir untuk membuat mi ayam yang berbeda dari yang lain untuk menarik pelanggan yang ingin mencobanya. Dengan cara ia mengecat gerobaknya dengan warna kuning dan merah muda ini kemudian menjadi ciri khasnya ‘Bang Ucup’. Setelah tujuh bulan usahanya lancar di lakukan dan sukses akhirnya Yusuf membuka kedai keduanya usahanya pun juga sukses seperti usaha yang pertama dan pada bulan Agustus 2013 Yusuf kembali membuka kedai mi yang ke tiga. Kedai ‘Bang Ucup’ itu ada di beberapa tempat yang berbeda-beda yaitu antara lain ada di kampus Universitas Muhammadiyah, pasar dan jlan semeru.

Yusuf membuka kedai mie ayam itu bukan semata-mata hanya mendapat keuntungan yang sebanyak-banyaknya tetapi hanya mengharapkan keridhaan dari Allah SWT. Di usahanya ia member atau membagikan mienya secara gratis bagi orang yang berpuasa Senin Kamis, Daud dll, ia membolehkan bagi orang yang berpuasa untuk buka puasa disana secara gratis. Pada saat menjelang maghrib selalu ramai pengunjung sambil menunggu untuk berbuka puasa. Mereka yang berpuasa boleh memilih sesukanya yang ingin mereka makan  ada mi ayam, mi bakso, atau campuran keduanya. Boleh  memakan sepuasnya, asal tidak dibawa pulang. Yusuf tidak peduli amalan mulia yang ia lakukan itu dinilai sebagai kedok belaka atau strategi promosi. 

“Terserah orang mau menilai apa, saya cuma mencari keberkahan dari Allah,” kata Yusuf. Karena Yusuf merupakan pria yang rajin menjalankan puasa sunnah jadi Yusuf ingin usahanya atau pada saat punya usaha ingin memberikan buka puasa gratis. Yusuf tidak membatasi jumlah orang yang berbuka puasa gratis. Berapapun akan ia layani dengan baik, asal persediaan masih ada ia siap melayani dengan senang hati.

Yusuf belum lama membuka kedai mi. Tetapi perkembangannya sangat cepat. Dimulai empat tahun lalu, kini Yusuf sudah memiliki tujuh cabang. Semuanya ada di Ponorogo. Dari seluruh cabang itu, setiap hari Yusuf mengantongi atau mendapatkan omset hampir 4 juta rupiah. Yusuf bukan saja memberi buka puasa gratis, sejak awal membuka kedai ia sudah rajin bersedekah. “Setiap satu kilogram mi, saya keluarkan zakatnya 500 rupiah,”.

Itulah mengapa saya mengangkat seorang pembisnis yang sangat luar biasa ini karena ia bukan saja memcari keuntungan tetapi mengharapkan reridhaan Allah SWT dari usahanya tersebut. Itu bisa memotifasi saya untuk bisa meniru hal-hal yang luar biasa dari beliau dalam melakukan usaha tidak semata-mata untuk dunianya saja tetapi akhiratnya pun juga dapat. Semoga usaha yang akan kita lakukan bisa meniru hal-hal yang sangat luar biasa tersebut dan jarang di lakukan oleh orang-orang yang telah sukses dalam usahanya.

Penulis : Murdiyah



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama