Hubungan Asesmen Diagnostik dengan Diagnostik kesulitan belajar (DKB)


Salah satu aspek pendidikan yang paling penting adalah penilaian diagnostik karena disarankan agar guru mengidentifikasi sifat siswa sejak dini dalam proses pembelajaran.ama halnya profesi dokter dengan guru, jika dokter mendiagnosa pasien atau determinasi perihal kesehatan yang dalam waktu itu terjadi oleh pasiennya sebagai penentu pengambilan pertimbangan dokter guna penyembuhan dan prognosis atau prediksi perkembangan penyakit. Sedangkan guru mendiagnosa “penyakit” peserta didik dengan menerapkan asesmen diagnosis diantaranya dengan memperhatikan gerak-gerik, mencari tahu sebab-sebab, latar belakang, sifat maupun karakter peserta didik untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan peserta didik. Maka dari itu seorang guru memiliki kesempatan lebih dalam  mengubah atau mewarnai dunia, satu kiprah untuk satu murid dalam setiap harinya.

Ada dua metode untuk melakukan evaluasi diagnostik: evaluasi non-kognitif dan evaluasi kognitif. Kemdikbud menegaskan bahwa Asesmen Diagnosis merupakan asesmen yang dilaksanakan dengan spesifik bertujuan untuk mengetahui kompetensi, kelebihan, kekurangan anak didik hingga akhirnya pembelajaran bisa di rencanakan  melalui kompetensi dan kondisi siswa.  

Dari pengertian tersebut saya dapat mengartikan bahwasannya tujuan pelaksanaan asesmen diagnostik merupakan “tameng” tolak ukur untuk mengetahui ketidaksesuaian konsep pembelajaran yang dikuasai peserta didik dan dapat memperlambat cara berpikirnya atau susah memahami materi yang disampaikan guru, bersamaan dengan ketidakseimbangan antara harapan-harapan yang ingin diraih peserta didik yang bertepatan di tingkatan pembelajaran. Dalam hal ini, asesmen menjadi pedoman untuk pendidik, guna mendapatkan cara efektif dalam aktivitas belajar. Begitupula dalam pengertian pedagogisnya ialah mengetahui bagaimana mendapati pembelajaran yang banyak makna yang diharapkan Pendidikan dapat berkembang sebagaimana mestinya. Seperti halnya asesmen diagnostik yang diterapkan pendidik dan peserta didik disetiap harinya.

Siapa yang melaksanakan proses asesmen diagnostic tersebut ?

Asesmen diagnostic bahwasannya tidak hanya dilakukan oleh guru BK dan wali kelas saja. melainkan kegiatan asesmen diagnostic ini juga dilaksanakan oleh seluruh guru termasuk guru mata pelajaran. Sedangkan kepala sekolah sebagai pemimpin di sekolah  dalam program asesmen diagnostic ini bertanggung jawab memastikan asesmen dapat terlaksana dengan baik diseluruh kelas pada awal minggu dan secara teratur pada awal proses pembelajaran. Perekayasa Ahli Pertama Pusat Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek, Gede Cahya Praadana menguraikan bahwasannya, percobaan asesmen  diagnostic tersebut dapat dilaksanakan dengan aplikasi AKM Kelas, dapat mengunduh aplikasi tersebut dengan klik link berikut ini :

https://pusmenjar.kemdikbud.go.id/akmkelas/post/download/android

Menurut Gede Cahya, “AKM Kelas merupakan aplikasi penunjang asesmen diagnostic”. Menurutnya, aplikasi tersebut ialah perhitungan atau alat ukur untuk mengerti Kekurangan murid dalam penguasaan materi atau Kompetensi laiinya beserta alasannya. Kemudian hasil asesmen diagnosis, bisa diterapkan sebagai dasar tujuan untuk menunjukan tindak lanjut yaitu Tindakan (intervensi) yang akurat sesuai kelemahan atau kekurangan murid. Kelanjutan dari asesmen diagnostic tersebut menyesuaikan dengan penilaian yang terjadi pada aspek asesmen. Hasil dari tindak lanjut proses belajarnya menggambarkan perbuatan yang sesuai dengan keadaan setiap peserta didik, yaitu kebebasan belajar dan dapat menyesuaikan diri.    

Tes asesmen diagnostic mengandung nilai karakteristik yakni terdapat variabilitas yang lemah dan fleksibilitas dalam watu pengerjaannya,  disertai rancangan tindak lanjut dan interpretasi.  Soal-soal yang disediakan dapat berupa  respon belajar dengan alasan. Dalam hal ini menelaahi sulit belajar peserta didik dan bukanlah tujuan menilai peserta didik “Tidak Lulus” ataupun “Lulus” melaiankan menganalisis penyebab kesulitan atau kesalahan peserta didik dan juga ketidakjujuran peserta didik menunjukan hasil diagnostis serta interpretasinya. Menurut Gede Cahya, “Manfaat tes diagnostic ialah mengetahui hambatan atau masalah sulit belajar yang dirasakan siswa. Namun tidak sampai situ saja, akan tetapi asesmen  diagnostic juga bisa membantu pengajar dalam perencanaan pembelajaran yang efektif dan efisensi. Begitupun dapat mengetahui informasi lengkap mengenai peserta didik akan (kesulitan atau hambatan proses belajarnya serta kelebihan) dan meringankan dalam membantu perancangan baseline untuk asesmen pembelajaran kedepannya.”

Implementasi asesmen diagnostik, biasanya banyak asumsi yang membatasi terlaksananya asemen. Bahwasannya asesmen tersebut hanya berlangsung di awal-awal pembelajaran saja, pasalnya fleksibilitas dalam mencakup jangkanya sangat penting dan dimungkinkan tidak dengan waktu yang singkat. Asesmen diagnostik cakupannya beragam bentuk mulai dari quiz pendek pada awal materi pelajaran contohnya quiz akar pangkat untuk mengetahui berapa soal yang sekiranya akan diberikan dalam PR kedepannya, sampai menganalisa bagaimana peserta didik cara menjawabnya dalam mata pelajaran matematika topik akar kuadrat dengan tujuan menganalisa untuk dapat menemukan konsep belajar yang tepat untuk menekankan dalam proses ajar lintas tahun ajaran.   

Berikut contoh penerapan asesmen diagnostik :

Ibu guru akan mendiagnosis mata pelajaran matematika dikelas 4 dengan jumlah peserta didik yang diuji sebanyak 5 anak, sesuai acuan kompetensi dasar menurut kemendikbud. Selanjutnya, ibu guru menyediakan soal sebanyak 10 soal latihan asesmen awal dalam materi pelajaran matematika. Materi yang diberikan merupakan pembagian, penjumlahan dan pengurangan, perkalian serta akar pangkat. Kemudian ibu guru memilih materi uji sesuai materi tersebut yang terdapat dari 2 soal semester 2 kelas 4, 6 soal semester 1 & 2 kelas 3, 2 soal semester 1 kelas 2. Kemudian seusai peserta didik kelas 5 tersebut menyelesaikan soal matematika, ibu guru dapat melaksanakan diagnosis hasil asesmen latihan siswa dan hasil dari jawaban yang didapat dimasukakan ke dalam table yang di sudah disiapkan.

Peserta didik yang mampu menjawab benar mendapatkan point satu dan yang salah mendapatkan angka point nol (0). Setelah penilaian dari masing-masing peserta didik, ibu guru melaksanakan perhitungan rata-rata kelas. Maka, jika perolehan akhirnya menunjukan rata-rata kelas 4 adalah 6, artinya perolehan rata-rata tersebut menunjukan bahwasannya kompetensi dasar peserta didiknya dalam  mata pelajaran berada ditingkatan kelas 3. Yaitu mengartikan satu level dibawah kompetensi dasar kelas 4.

Sesuai perolehan rata-rata tersebut ibu guru dianjurkan untuk membagi peserta didiknya menjadi tiga tim dan disesuaikan pengajarannya dikelas dengan kompetensi hasil rata-rata peserta didik. Peserta didik dengan perolehan rata-rata yang sudah dihasilkan tadi dapat diampu oleh ibu guru kelas 4 sendiri, kemudian peserta didik yang satu semester dibawah perolehan rata-rata diharapkan mendapati  pelajaran matematika tambahan oleh guru pengampu kelas 4 tersebut, dan peserta didik yang berada 2 semester dibawah perolehan rata-rata sangat dianjurkan untuk dititipkan dan diajar oleh pengampu materi kelas 3 atau dapat membuat kelompok belajar dengan pendampingan orang tuan atau wali murid yang sekiranya berkenan yang sekiranya dapat mendukung upaya belajar siswa.

Dalam hal ini, disarankan agar guru mampu melaksanakan proses diagnosis sederhana tersebut secara berkala setiap bulannya. Berdasarkan hasil asesmen, hal tersebut sangatlah penting dan bermanfaat dalam pelaksanaan adaptasi peserta didik terhadap materi pembelajaran yang sesuai dengan tingkat kemampuannya peserta didik di kelas yang diajar. Bahwasannya asesmen diagnosis berkala tersebut harus terlaksana disetiap kelas untuk seluruh tingkatan pendidikan. Karena, asesmen diagnostik menjadi kesimpulan data utama dalam mengambil keputusan berbagai tingkatan.

Ketika ada tantangan yang diakui untuk belajar dan mencapai hasil pendidikan terbaik, siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar. Memahami pembelajaran adalah ide yang cukup luas.diantaranya: learning disorder, learning disabilietas, learning disfunctiono. Kesulitan belajar yang seringkali dialami peserta didik, diketahui dengan faktor pengaruh dalam proses belajarnya dan hasil dari proses belajar. Faktor intern (dalam diri peserta didik): 1. Perspektif terkait pembelajaran 2. Motivasi belajar; 3. Fokus pembelajaran; 4. Pemahaman bahan ajar 5. Keyakinan diri dan hasil akademik. Pengaruh luar (dari siswa): 1. Kurikulum seluruh sekolah 2. pengaturan sekolah 3. Peraturan dan norma di sekolah 4. Fasilitas sekolah 5. Guru pembimbing pilihan sekolah

Peserta didik yang memiliki gejala susah belajar tersebut, harus segera ditindak lanjuti dalam proses pembelajaran, salah satunya dengan cara asesmen diagnostik karena apabila tidak segera ditindaklanjuti Pendidikan di Indosesia susah berkembang dan maju.

Beberapa tanda perilaku tantangan belajar meliputi: 1. Hasil belajar di bawah rata-rata 2. Hasil dan usaha yang dilakukan sering tidak seimbang 3. Lambat pengerjaan dalam tugas sekolah 4. Memiliki sikap manipulatif, acuh tak acuh, pembangkang 5. Suka melanggar aturan sekolah: suka terlambat, membolos, tidak mengerjakan tugas sekolah, menyontek, tidak fokus dalam proses belajar mengajar 5. Over emosi. Lantas jika keadaan proses belajar di negara ini, terlaksana seperti itu terus-menerus kapan anak bangsa siap menjadi “agent of change Indondesia”.

Langkah diagnosis kesulitan belajar dalam pelaksanaan asesmen diagnostik, diantranya: mengetahui kasus dan permasalahan serta faktor penyebab kesulitan belajar, perkiraan tindakan yang dapat membantu memulihkan dan Menyusun rencana alternative yang akan terlaksana. Prosedur pelaksanaannya, yaitu: a. menganalisis masalah, kesulitan, letah dan penyebab kelemahannya; b. perlunya Tindakan: menambah jam belajaran atau pengayaan materi; c. Evaluasi: mengetahui hasil belajar remidial dengan harapan meningkat 75%. Namun, bila belum tercapai dilperlukan asesmen diagnostic kembali sampai nilai diatas rata-rata.

Jadi, kesimpulannya hubungan assessment diagnostik dengan diagnostic kesulitan belajar bertujuan untuk siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat dipulihkan dan dikoreksi, guru agar terus mengontrol apa yang terjadi pada peserta didik berdasarkan kegiatan belajar mengajar, yang apabila diketahui kendala dalam belajar mengajar siswa segera dipecahkan permasalahannya begitupula secara tidak langsung guru sitematis mengikuti perkembangan peserta didik.

Penulis : Atika Nur Safitri ( Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Purwokerto )



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama