Bertemu dengan Amal Usaha Muhammadiyah

Aku bukan anak dari seorang pengusaha, bukan juga dari seorang pegawai. Aku adalah anak dari ayah dan ibu yang  hebat yang berhasil membesarkanku hingga saat ini. Aku merupakan fresh graduate dari kampus ternama.

Sejak hari setelah wisuda inilah aku mulai menapakkan kakiku sendiri di bumi kehidupan. Hatiku seakan menyuruhku untuk tidak berhenti disini.

Aku harus membuat bangga orang tuaku atas diriku ini”.

Aku memulainya dengan membuat surat lamaran kerja. Aku bertanya dengan temanku yang sebelum lulus sudah bekerja di suatu sekolah.

“ Emang ada lowongan kerja disitu? Cara daftarnya gimana”.

Kebanyakan temanku menjawab “aku ditawarin, aku ada kakakku disitu”

Terus bertanya lagi “ada seleksinya?”

Temanku menjawab “Ngga ada”.

Pikiranku berkecamuk “loh kok bisa begitu, setauku lowongan kerja pasti ada seleksinya. Tapi disitu tidak, tahu-tahu sudah masuk kerja.

Ketika pikiranku berkecambuk aku tetap menyebar lamaran kebanyak sekolah tanpa melihat ada tidaknya loker di sekolah yang aku tuju. Satu minggu, dua mingu masih tidak ada panggilan dari surat lamaran yang aku kirimkan. Kemudian aku mendatangi sekolah yang “katanya” membutuhkan guru. Tapi sampai sana? Jawbannya tidak ada. Ah saya tetap khusnuzon, mungkin informasi yang saya dapatkan salah.

Aku semakin down, karena teman-temanku semuanya sudah bekerja dan aku belum. Begitu juga disekelilingku banyak sekali orang berkata bahwa masuk kerja jalur orang dalam. Apakah harus begitu? Apakah hanya yang  punya kerabat saja yang punya kesempatan? Dengan pikiran yang saling bergelut dalam otakku. Tiba-tiba ada notifikasi flyer loker dari sekolah Muhammadiyah. Wah kesempatan nih!.

Singkat cerita saya mendaftarkan disitu dan mengikuti banyaknya runtutan seleksi “Klonteng” bunyi ponselku berdering. Ternyata pesan masuk bertulisan “Assalamualaikum bu, ditunggu kedatangannya untuk mengikuti seleksi.” Pada saat itu aku sedang les privat, aku segera izin pamit pulang kepada wali murid les.

Betapa senangnya aku dapat panggilan seleksi dari banyaknya surat lamaran yang aku kirimkan. Qodarullah aku lolos seleksi, dan hanya selang waktu satu hari dari seleksi kemudian aku langsung bekerja. Masha Allah…impian yang aku perjuangan kini aku sudah mendapatkannya. Aku sangat bersyukur Allah telah mengijinkanku untuk bekerja. Di sinilah awal bertemunya dengan Amal Usaha Muhammadiyah.

Dari pertama kali aku ke AUM tersebut aku sangat terkesima dengan system pendidikannya. Lantunan ayat Al Qur’an terdengar indah dari berbagai arah. Anak-anak dengan wajah berseri, cerah ceria dan guru-guru yang ramah. Wahhh ini baru pertama kali menginjakkan kaki, aku sudah merasakan kenyamanan. Mereka menyambutku dengan sangat baik, rasanya seperti orang yang sudah kenal lama. Ternyata masih ada lowongan kerja dengan seleksi tanpa pandang bulu.

Aku hanya orang biasa yang tidak punya kerabat pegawai. Dan keinginanku di terima di pekerjaan tanpa tangan orang lain tercapai. Aku sangat bersyukur di terima di sekolahan ini. Banyak hal-hal yang membuatku takjub dari pembiasaan, dari suasana kerja, dan kegiatan yang membawa pengaruh baik ke diriku. Bagaimana aku tidak takjub, di AUM tersebut tidak ada perbedaan. Mereka semua berdiri sama tanpa adanya tingkatan. Kegiatan-kegiatan yang belum pernah aku temui pun ada di sini. Contohnya kegiatan Jum’at Berkah disitu memberi wadah bagi siapa yang ingin bersedekah di hari Jum’at.

Di AUM ini aku sangat merasa di wadahi atas semua keinginanku yang belum terlaksana sebelumnya. Pada intinya aku merasa bersyukur diterima dengan baik di lingkungan yang baik. Aku merasakan bahwa inilah tempat yang sesuai dengan ekspetasiku, aku tidak pernah merasakan kenyamanan seperti ini. Tidak ada kecanggungan antar rekan kerja, yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda.

Dari AUM inilah bukan tempat akhir dari masa belajarku,melainkan kelanjutan dari belajarku yang telah lalu. Banyak sekali yang membuatku berkata dalam hati “Ohh begitu…” banyak ilmu yang baru saya dapatkan.

Program setara D-1 pun sangat membuatku terkesima. Bagaimana tidak? Dengan program tersebut aku banyak mendapatkan ilmu dan bisa menyampaikan sedikit demi sedikit kepada anak didik di sekolah. Dan selain disampaikan kepada anak didik pun diterapkan dalam diri sendiri. Pada intinya aku sangat bersyukur, Allah telah memberi kesempatan yang sangat indah ini.

Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah..

Penulis : Mega Findi Astuti




Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama