Muhammadiyah di Pedesaan Brebes Selatan

Cukup banyak ilmuwan sosial yang mengkaji Islam di Indonesia berkesimpulan bahwa Muhammadiyah banyak tumbuh di wilayah perkotaan. Sebaliknya, NU banyak tumbuh subur di pedesaan. Kesimpulan ini tak terlalu salah, meski tidak bisa digeneralisasi begitu saja, karena dalam banyak kasus Muhammadiyah justru hadir dan tumbuh subur di pedesaan, bahkan jauh di pelosok pedesaan. Dari sisi latar belakang kehadirannya, NU sudah hadir dan tumbuh subur secara kultural (jamaah) dalam masyarakat, baru kemudian diorganisasikan dalam sebuah wadah atau jamiyah bernama NU. Sementara Muhammadiyah membentuk organisasi (jamiyah) dulu, baru kemudian mengembangkan komunitas atau jamaahnya. Ini yang menjadikan basis jamaah NU secara kultural banyak berada di pedesaan, sementara basis Muhammadiyah banyak berada di perkotaan.

Jamaah NU sudah lahir secara kultural jauh sebelum NU secara jamiyah lahir, sementara jamaah Muhammadiyah hadir selepas Muhammadiyah sebagai jamiyah lahir. Jadi ada proses untuk menjadi Muhammadiyah (becoming Muhammadiyah). Sementara secara kultural praktis tak ada proses untuk menjadi jamaah NU. Latar belakang ini menjadikan NU secara jamaah berjumlah lebih besar daripada Muhammadiyah. Tetapi Muhammadiyah memiliki kelebihan dalam bentuk organisasi yang lebih tertib dan rasional. Selama saya blusukan dalam beberapa bulan terakhir, tentu dalam kapasitas saya sebagai Calon Legislatif untuk DPR RI dari Partai Amanat Nasional, terutama di daerah Brebes Selatan, banyak didapati hal yang menarik sekaligus menggembirakan terkait dengan perkembangam dan kemajuan Muhammadiyah.

Beberapa desa di Kecamatan Tonjong, Muhammadiyah tampil cukup menonjol. Begitupun di Kecamatan Paguyangan. Hanya untuk sebuah kecamatan, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Paguyangan bisa mendirikan sebuah perguruan tinggi bernama Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK), yang untuk sementara memiliki dua Program Studi. Baru berjalan dua tahun ini STMIK telah memiliki mahasiswa lebih dari 150 orang, jumlah yang lumayan menggembirakan untuk sebuah PT baru dan berada di tingkat kecamatan. Di Kecamatan Bumiayu, terutama di wilayah kota kecamatan berdiri banyak amal usaha Muhammadiyah dari panti asuhan, sekolah sampai rumah sakit. Lebih menggembirakan lagi, di beberapa pelosok desa di wilayah Kecamatan Bumiayu ada beberapa ranting yang tampil sangat menonjol.

Sekadar contoh, ada desa bernama Adisana. Di desa ini Muhammadiyah hadir dengan empat kepemimpinan di tingkat ranting (PRM). Padahal lazimnya dalam satu desa itu hanya terdiri dari satu atau maksimal dua ranting. Keempat ranting dimaksud adalah Ranting Baruamba. Ranting ini memiliki amal usaha berupa MTs, MI, dan TK ABA. Lalu ada Ranting Adisana yang memiliki amal usaha berupa TK ABA dan MI. Selanjutnya Ranting Blere yang belum mempunyai amal usaha. Tapi menariknya, terkait Pilpres

2019, Pimpinan Ranting-nya sempat berseloroh, "Ranting Blere memang belum mempunyai amal usaha, tapi mempunyai Kantor Pemenangan Prabowo Sandi yang cukup besar."Kebetulan saat saya menuju Desa Adisana memang didapati rumah dengan halaman luas yang dihiasi beberapa spanduk dan baliho bergambar Prabowo-Sandi.

Terakhir Ranting Kweni yang mempunyai amal usaha berupa TK ABA. Muhammadiyah hadir di Desa Adisana sekitar 17 tahun selepas berdirinya Muhammadiyah, tepatnya tahun 1929. Muhammadiyah di Adisana merupakan pengembangan dari Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan yang menurut literatur yang pernah saya baca berdiri pada tahun 1922. Masih di Bumiayu, ada juga Ranting Muhammadiyah Langkap yang mempunyai beberapa amal usaha, di antaranya MI Muhammadiyah yang siswanya jauh lebih banyak dari siswa SDN di Langkap. 

Lebih menggembirakan lagi adalah perkembangan dan kemajuan Muhammadiyah di Kecamatan Sirampog. Di kecamatan ini, Muhammadiyah tampil sangat mendominasi. Bahkan salah satu ranting Muhammadiyah di Sirampog yang bernama Ranting Plompong, yang berada di pucuk Gunung Selamet itu menjadi ranting Muhammadiyah percontohan Jawa Tengah. Ranting Plompong berada di pucuk Gunung Selamet, yang untuk mencapai lokasi harus menggunakan mobil yang sehat dan tinggi. Jangan coba-coba naik menuju Plompong dengan memakai mobil sedan. Ranting ini memiliki amal usaha, di antaranya Pondok Pesantren Hj. Nasikhah Maemanah Muhammadiyah, TPA/TQA, TK Aisyiyah Bustanul Athfal I dan II, MI, MTS Muhammadiyah, MA Muhammadiyah, SMK Muhammadiyah, Koperasi Surya Sekawan, PKU Muhammadiyah, Poskestren Plompong, Majelis Ta' lim 8 binaan, Masjid KH. Ahmad Dahlan, Radio Dakwah dan Pendidikan "Surya FM" 106.7 Mhz, dan Internet Desa. 

Itulah gambaran Muhammadiyah di Pedesaan. Peneliti-peneliti sosial keagamaan perlu datang, khususnya di Sirampog, untuk melihat fenomena menarik bahwa Muhammadiyah juga hadir dan bahkan sangat kuat di pedesaan bahkan di pelosok pedesaan.

Penulis : Nanda Virgi Septian (mahasiswa Prodi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Purwokerto)



2 Komentar

  1. Nurrul Nabila Yulianisya_ 2106040015

    Saya setuju dengan artikel di atas, Muhammadiyah di Brebes Selatan memang sudah cukup tersebar luas, di Bumiayu pun sudah cukup banyak sekolah dibawah naungan Muhammadiyah dari TK, SD, SMP dan juga pesantren. Untuk korelasi antara Muhammadiyah dan NU dikatakan cukup baik, karena keduanya berkontribusi dalam memajukan agama dan kesejahteraan masyarakat setempat. Bahkan, di beberapa tempat di Bumiayu ada beberapa masjid yang dikelola secara bersama oleh kedua organisasi ini.

    BalasHapus
  2. Rizki Rahmat Ramadhan 2006040010

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama