Supaya Mahasiswa Harus Berani Berkarya

Saya telah mendapatkan tugas selama tiga semester ini untuk mengampu matakuliah teknik penyusunan buku ajar Pendidikan Agama Islam di Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Sebagai dosen yang sebenarnya tidak mengusai secara mendalam disiplin ilmu ini, paling tidak pengalaman menjadi penulis buku dan pendiri sebuah penerbitan buku, barangkali menjadi salah satu pertimbangan Kaprodi untuk memberikan matakuliah tersebut kepada saya, sehingga saya lebih menekankan pada luaran perkuliahan dibandingkan teori-teori, apalagi matakuliah ini sebarannya berada di semester tujuh yang memungkinkan secara disiplin keilmuan mahasiswa telah terisi di semester sebelumnya.

Pada masa perkuliahan hybrid tahun lalu, saya memberikan dua tugas kepada mahasiswa yaitu tugas kelompok dan tugas individu. Dalam tugas kelompok ini, para mahasiswa saya bagi menjadi beberapa kelompok untuk menyusun buku ajar yang dapat digunakan oleh guru dalam proses pembalajaran sehingga seluruh struktur dalam buku tersebut wajib mengacu standar kompetensi dan bahasan sebagaimana telah tertuang dalam RPP. Sementara tugas kelompok saya membagi berdasarkan topik yang telah saya tentukan sebelumnya, sehingga mahasiswa hanya perlu mengeksplorasi topik tersebut yang disesuaikan dengan sistematika penulisan yang telah saya tentukan.

Sebagaimana mahasiswa pada umumnya, mahasiswa yang mengambil matakuliah ini selalu ada keluh dan abai terhadap waktu pengerjaan tugas. Semua dikerjakan dengan tenggat waktu yang relatif mepet, sehingga saya pun harus melakukan review penulisan di sela-sela materi perkuliahan pasca ujian tengah semester. Maka, untuk menghemat waktu saya harus memutar otak agar projek buku ini harus selesai dan dapat diterbitkan oleh penerbit. Saya menunjuk dua orang mahasiwa dari semester tiga, namanya Ayu dan Hasnah. Mereka berdua saya bekali teknik menjadi editor ala kadarnya yang penting mereka berdua memiliki ketabahan dan kesabaran untuk membaca tulisan minimal 10 lembar setiap mahasiswa.

Keberadaan mereka berdua begitu sangat meringankan beban saya. Saya memberikan tenggat satu setengah bulan untuk menyelesaikan editing naskah buku tersebut, dimana kedua editor dadakan tersebut harus kebagian masing-masing empat judul buku. Tak jarang saya mendapatkan keluhan mengenai naskah yang ancur-ancuran isinya hingga sempat mereka hendak menyerah. Namun, saya memberikan vaksin booster rayuan agar mereka tetap bertahan. Dan hasilnya imun tubuh dan pikiran semakin kuat di tengah kepungan virus corona dan tulisan yang sungguh aduhai itu.

Setelah naskah buku sudah tersusun rapi dan siap terbit, persoalan lain pun timbul. Yaitu, adanya aturan baru dari Perpusnas mengenai adanya pembatasan untuk pengajuan ISBN. Buku yang dihasilkan dan digunakan untuk perkuliahan (pembelajaran) dapat diterbitkan tanpa adanya ISBN. Saya pun harus berkali-kali berkomunikasi dengan mahasiswa sebagai penulis, editor, dan penerbit di tengah perkuliahan ini telah selesai dan keluar nilainya. Tujuan saya satu yaitu supaya mahasiswa harus berani berkarya.

Akhirnya, tugas mahasiswa tersebut tetap diterbitkan sesuai dengan arahan Perpusnas. Buku tersebut dapat diakses di link berikut ini : https://linki.ee/literaaksara?utm_source=profile_share

Terima kasih Ayu dan Hasnah. Kalian berdua memang top. 👍👍

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama